Sektor Informal Dinilai Lebih Menjanjikan

Penyerapan tenaga kerja di sektor informal lebih banyak memberi solusi atas buramnya persoalan ketenagakerjaan Indonesia.

Sleman mengusulkan tambahan 10 paket padat karya.
Penyerapan tenaga kerja di sektor informal lebih banyak memberi solusi atas buramnya persoalan ketenagakerjaan di Indonesia. Data di Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi menyebutkan, lapangan kerja sektor informal menyerap tenaga kerja cukup tinggi pada 2010, sebesar 63,7 persen.

Realitas itu mendorong lahirnya dua program, yakni Pengembangan Kegiatan Usaha Ekonomi Produktif Sistem Padat Karya (Model Padat Karya Produktif) dan Pemberdayaan Masyarakat Melalui Teknologi Tepat Guna.
“Dua program itu hingga 2014 menjadi prioritas kami menyelesaikan masalah perluasan kesempatan kerja,”kata Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Muhaimin Iskandar, dalam kunjungan kerjanya ke Bedukan, Pleret, Bantul, kemarin.

Dia berharap pemerintah Ban tul memanfaatkan secara baik program tersebut untuk mengatasi masalah ketenagakerjaan yang terjadi disana.

Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Bantul mencatat, jumlah perusahaan formal sebanyak 560 perusahaan. Sedangkan jumlah angkatan kerja di Bantul ada 481.420 orang, 80 ribu lebih di antaranya menganggur dan setengah menganggur. Persentase pengangguran terhadap angkatan kerja 2010 hanya 6,2 persen, dengan jumlah pencari kerja rata-rata 9.000 orang tiap tahun.

Wakil Bupati Bantul Soemarno mengatakan serapan angkatan kerja lokal menurun pada 2009, dari 1.125 jiwa menjadi hanya 328 jiwa pada 2010. Kenaikan kecil justru terjadi pada angkatan kerja antardaerah, dari 443 jiwa pada 2009 menjadi 598 jiwa.

Penambahan unit program padat karya akan dilakukan untuk warga di wilayah Kabupaten Sleman. Pascaerupsi Merapi, Kementerian Tenaga Kerja telah menggulirkan delapan unit program padat karya, dan akan di tambah lagi, mengingat warga terdampak erupsi berjumlah 13 ribu orang. “Erupsi Merapi terjadi akhir tahun, sehingga dana diambil dari anggaran tambahan,” kata Muhaimin saat berkunjung di Balai Desa Argomulyo, Cangkringan, Sleman, kemarin.

Ada tiga program unggulan yang direncanakan, yaitu Pembangunan Desa Produktif, Pengembangan Teknologi Tepat Guna, dan Padat Karya. Program itu akan dilakukan hingga akhir 2011. Sayangnya, Cak Imin-panggilan Muhaimin–tidak bisa menyebutkan berapa dana yang disiapkan.

Sedangkan Kriswantom, Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Sosial Sleman, mengakui sebelumnya telah menerima paket padat karya senilai Rp 750 juta. Kini, ia mengusulkan lagi 10 paket padat karya. Pekerjaan utamanya adalah perbaikan infrastruktur yang rusak akibat erupsi Merapi.”Idealnya 10 paket padat karya lagi, karena yang mendapat jatah itu baru separuhnya,” kata Kriswanto.

PRIBADI WICAKSONO | MUH SYAIFULLAH
http://epaper.korantempo.com/KT/KT/2011/03/21/ArticleHtmls/21_03_2011_223_019.shtml

Perihal rianst
Putra Minang..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: